Join saluran wa AhZanMC Klik Disini!

Legenda Wulan BAB 1 - Awal dari semua itu

Awal dari Semua Itu

Ribuan tahun berlalu. Kekuatan fisik Ahzan sebagai sang Legenda Cahaya akhirnya mencapai batasnya. Meskipun jiwanya abadi, raganya tidak lagi mampu menopang intensitas energi cahaya murni yang begitu besar. Di sebuah tempat sunyi yang dikenal sebagai Forgotten Ruins, tempat di mana batas antar dunia menjadi tipis, Ahzan sang Legenda Cahaya berdiri menanti.

Di hadapannya, muncul sesosok pemuda dari dimensi lain yang memiliki nama yang sama yaitu Ahzan. Sosok legenda itu menatap pemuda di depannya dengan pandangan penuh haru.

"Waktuku di dimensi ini telah usai, namun tugas kita belum selesai. Kamu punya hati yang hancur, sama sepertiku. Tapi ingatlah, Ahzan... justru dari retakan itulah cahaya bisa bersinar paling terang. Terimalah beban dan kekuatan ini. Jadilah pelindung yang lebih baik daripadaku. Bangunlah... Sang Pewaris."

"Setelah ini, mungkin beberapa hari atau bulan atau tahun ke depan akan ada cerita baru dan misi baru yang harus kamu lakukan demi keselamatan antara dunia mimpi dan dunia nyata."

Di sanalah terjadi transfer "Core Cahaya". Sosok Ahzan dari dimensi cahaya itu perlahan melebur dan berubah menjadi bola-bola cahaya yang bertebaran menghiasi reruntuhan. Kekuatan cahaya itu kini melesat masuk dan bersemayam di tubuh Ahzan yang masih usia remaja. Namun, ada harga mahal yang harus dibayar yaitu seluruh rambut Ahzan rontok terbakar oleh panasnya energi suci yang luar biasa tersebut, meninggalkan kepalanya botak licin sebagai tanda permanen bahwa ia kini adalah "Wadah Cahaya".

Sebelum kesadarannya pudar dan kembali ke tubuh aslinya, selembar kertas melayang jatuh tepat di hadapannya. Di sana tertulis pesan terakhir dari dirinya yang lain:

"Sekarang kamu adalah pewaris kekuatan cahayaku. Armor cahaya, senjata, dan tekad ini sekarang jadi milikmu. Namun ingatlah, tubuh fisikmu di dunia nyata belum siap menampung energi sebesar ini. Kekuatan ini hanya akan aktif sepenuhnya saat kamu berada di alam mimpi. Di dunia nyata, kamu harus bertahan dengan kekuatan hatimu sendiri. Kamu pasti bisa kok."

Saat Ahzan selesai membaca pesan tersebut, kertas itu seketika terbakar menjadi debu cahaya. Sensasi panas luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya, menjadi penanda bahwa takdirnya telah berubah selamanya.

Tiba-tiba, terdengar suara sayup-sayup seseorang yang memanggil namanya. Ahzan tersentak bangun dari dunia mimpi. Cahaya lampu neon yang dingin menusuk matanya. Ia terbangun di sebuah kamar di rumah sakit, menyadari bahwa ia baru saja sadar dari koma panjang yang berlangsung selama tiga hari.

Beep... beep... beep... beep... beep... beep...

Suara itu terdengar konstan, tajam, dan dingin, membelah kesunyian yang mencekam. Ahzan merasakan kelopak matanya sangat berat, seolah-olah ribuan tahun telah berlalu sejak terakhir kali ia berkedip. Bau antiseptik yang menyengat dan aroma tajam obat-obatan kimia langsung menyerbu indra penciumannya, menggantikan aroma bunga cahaya yang samar-samar masih tertinggal di ujung ingatannya.

Saat ia berhasil memaksa matanya terbuka, cahaya lampu neon putih dari langit-langit masuk kedalam ke pupilnya, memicu rasa pusing yang luar biasa. Dunianya terasa berputar. Di mana Forgotten Ruins itu berada? Di mana kekuatan cahaya yang baru saja menelannya? Yang ada hanyalah ruangan beton berwarna putih dan biru


Ahzan mencoba mengingat-ingat. Hal terakhir yang ia tahu adalah berdiri di hadapan sosok dirinya yang bercahaya agung. Namun, bagaimana ia bisa sampai di kasur ini? Mengapa punggungnya terasa sangat nyeri, seolah-olah ada beban berat yang menghantamnya?

Ia mencari-cari ingatan tentang apa yang terjadi sebelum ia tertidur, namun kepalanya terasa kosong. Ada sebuah lubang besar di ingatannya. Ia tidak ingat jalan pulang, ia tidak ingat wajah siapa pun, dan ia sama sekali tidak tahu alasan mengapa tubuhnya bisa terbaring tak berdaya di sini. Ia merasa seperti baru saja di- restart secara paksa.

"Hmmm kenapa... aku bisa ada di sini?, apa yang sebenarnya terjadi?" bisiknya. Suaranya parau, pecah, dan hampir tidak terdengar.

Ahzan merasakan sensasi aneh di kepalanya, sesuatu yang terasa "dingin" dan terpapar langsung oleh udara AC rumah sakit. Dengan tangan yang gemetar dan masih tertancap jarum infus, ia meraba puncak kepalanya.

Jantungnya berdegup kencang. Kulit kepalanya terasa halus. Terlalu halus. Tidak ada satupun helai rambut yang ada, tidak ada tekstur yang terasa kasar, semuanya licin. Panas luar biasa yang ia rasakan di dunia mimpi ternyata telah membakar habis rambutnya di dunia nyata.

Ia menoleh ke arah jendela. Di sana, pantulan dirinya di kaca memperlihatkan sosok remaja yang pucat, mengenakan baju pasien biru muda yang kebesaran, dengan kepala botak licin yang tampak kontras dengan bayangan gelap di bawah matanya. Ia terlihat seperti seseorang yang sedang berjuang melawan penyakit mematikan, padahal ia baru saja menerima warisan ksatria.

Di sekelilingnya hanya ada peralatan medis yang tak bernyawa. Sebuah meja kayu kecil di samping ranjang tampak kosong, tidak ada bunga, tidak ada buah-buahan, tidak ada kartu ucapan "Cepat Sembuh". Hanya ada segelas air putih yang sudah tidak lagi jernih dan sebuah nampan berisi bubur hambar yang sudah mengeras.

Sepertinya, selama tiga hari ia tak sadarkan diri, tidak ada satu orang pun yang datang mencarinya.

Ia mencoba duduk, namun rasa sakit di punggungnya kembali menyerang. Di saat itulah, ia merasakan sesuatu yang asing merambat di tulang belakangnya sebuah denyutan hangat yang tidak berasal dari obat-obatan rumah sakit. Denyutan itu terasa seperti energi yang sedang tertidur, menunggu matahari terbenam untuk bangkit kembali.

Meskipun ia lupa alasan ia berada di rumah sakit, ingatan tentang Solariis atau dimensi Legenda Cahaya justru menetap dengan sangat kuat. Ia ingat Alif yaitu kakak Ahzan, dan ia ingat pesan terakhir Sang Legenda.

"Armor cahaya, senjata, dan tekad ini sekarang jadi milikmu..." itu yang aku ingat

Pintu kamar mendadak terbuka dengan kasar. Seorang perawat masuk, dan begitu melihat Ahzan duduk tegak di ranjangnya, perawat itu menjatuhkan baki obat yang ia bawa.

"Dokter!!! Pasien di kamar nomor 302 sudah sadar! Ahzan bangun!"

Ahzan hanya menatap perawat itu dengan bingung. Ia masih belum tahu siapa dirinya di dunia ini

Pintu kamar terbuka dengan kasar. Seorang dokter paruh baya masuk dengan wajah serius, diikuti seorang perawat yang tampak canggung. Begitu melihat Ahzan terbangun, sang dokter langsung melakukan pemeriksaan rutin seperti mengecek pupil mata, detak jantung, hingga reflek syarafnya.

"Kamu sudah bangun, Ahzan," ucap dokter itu tanpa basa-basi. "Nama saya Dokter Gunawan. Kamu beruntung bisa terbangun dari koma tiga hari ini tanpa kerusakan otak yang permanen."

"Dok... kenapa saya di sini?" Ahzan bertanya dengan bingung. "Dan rambut saya kenapa?"

Dokter Gunawan menghela napas, menatap papan catatannya sejenak. "Seseorang menemukanmu tergeletak di sebuah gang sempit beberapa hari lalu. Kondisimu cukup buruk saat itu; ada benturan keras di punggung dan kepalamu. Mengenai rambutmu, kami menyimpulkan ini sebagai penyakit langka yang terjadi karena reaksi autoimun ekstrem yang dipicu oleh shock fisik dan psikologis yang baru saja kamu alami."

"Gang sempit? Siapa yang melakukannya? Siapa yang menemukan saya?" Ahzan mencoba memaksakan otaknya bekerja, tapi setiap kali ia mencoba mengingat kejadian di gang itu, kepalanya terasa seperti ditusuk-tusuk jarum.

"Polisi masih mencarinya. Kamu ditemukan dalam kondisi sendirian," jawab sang perawat dengan suara yang sedikit bergetar, seolah ia sedang menyembunyikan sesuatu. Ia segera mengalihkan pandangan dan sibuk mengatur selang infus Ahzan.

30 Menit kemudian

Dokter dan perawat sudah keluar dari kamar dan Ibu masuk kedalam kamar tersebut, mengetahui bahwa Ahzan sudah sadar Ibu berkata

"Ahzan? Nak... kamu sudah bangun?"

Suara itu lembut tapi pecah oleh isak tangis. Ahzan menoleh dan melihat Ibunya berdiri di ambang pintu. Sang Ibu menjatuhkan tas belanjaannya, berlari mendekat, dan memeluk Ahzan dengan sangat erat seolah takut kehilangan putra bungsunya itu lagi.

"Syukurlah... Ibu takut sekali kamu tidak akan bangun," isak Ibunya di bahu Ahzan. Namun, saat sang Ibu melepaskan pelukan dan menatap kepala Ahzan yang botak licin, wajahnya mendadak memucat. "Rambutmu... dokter bilang ini efek trauma itu, Zan. Tapi tidak apa-apa, yang penting kamu selamat nak."

"Bu... Mas Alif mana?" tanya Ahzan dengan suara parau. "Kenapa dia tidak ada di sini?"

Seketika, genggaman tangan Ibunya mengendur. Sang Ibu yang tadinya menangis haru tiba-tiba memalingkan wajah, tangannya mendadak sibuk merapikan selimut Ahzan dengan gerakan yang sangat dipaksakan.

"Kakakmu... dia sedang pergi jauh, Zan," jawab Ibunya pendek. Nada suaranya berubah datar, sebuah nada yang sangat dikenal Ahzan sebagai pertanda ada sesuatu yang disembunyikan.

"Pergi ke mana? Kenapa mendadak sekali? Dia tahu aku koma, kan?" desak Ahzan. Rasa ingin tahunya mendadak lebih menyakitkan daripada luka di punggungnya.

Ibunya menghela napas panjang, menatap ke luar jendela rumah sakit ke arah senja yang mulai turun, membelakangi Ahzan. "Dia pergi jauh ke rumah kakek di luar kota. Sangat jauh. Dia bilang harus segera berangkat dan pindah kesana. Sudah, jangan dipikirkan dulu, yang penting kamu pulih."

Ahzan tahu Ibunya berbohong. Insting seorang "Ksatria" yang baru saja ia warisi bisa merasakan kegelisahan luar biasa dari gerak-gerik Ibunya. Ada rahasia besar di balik kepergian kakaknya yang bertepatan dengan insiden yang membuatnya koma.

Resonansi Kesedihan

Malam itu, setelah Ibunya pulang untuk mengambil pakaian ganti, Ahzan kembali sendirian di dalam kamar yang remang. Ia menatap pantulan dirinya di jendela kaca. Seorang remaja botak yang tampak rapuh dan kesepian.

Dua dunia, dua nama yang sama, dan dua kehilangan yang serupa. Di dunia mimpi, Alif dikurung dalam kegelapan karena pengkhianatan. Di dunia nyata, Alif menghilang tanpa jejak karena alasan yang dirahasiakan rapat-rapat oleh keluarganya.

"Kenapa rasanya sesak sekali?" gumam Ahzan, menyentuh dadanya yang terasa hangat oleh getaran Core Cahaya.

Ia memejamkan mata, membiarkan dirinya kembali ke ambang tidur. Ia tidak ingat siapa yang memukulinya di gang itu, dan ia tidak tahu ke mana kakaknya pergi. Tapi satu hal yang ia sadari: hidupnya di dunia nyata sudah tidak lagi sama. Cahaya ini bukan hanya warisan kekuatan, tapi juga awal dari pencarian panjang tentang kebenaran yang sengaja dikubur dalam kegelapan.



About the Author

Hai, aku AhZanMC, dan aku adalah seorang content creator yang sangat antusias dalam berbagi segala hal tentang Minecraft

Posting Komentar

Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.