Join saluran wa AhZanMC Klik Disini!

Resonansi Cahaya - Sosok Legenda Cahaya

Sosok Legenda Cahaya


Pendahuluan

Kisah Ahzan adalah sebuah pengingat bahwa bahkan dalam dunia yang penuh kegelapan, selalu ada secercah cahaya. Cahaya dan kegelapan adalah dua kekuatan yang tak terpisahkan, namun ketika keseimbangan mulai terusik, sebuah ancaman mengerikan muncul dari kedalaman void atau ruang hampa yang mengancam untuk menghancurkan Solariis, sebuah negeri cahaya yang damai dan tentram.

Di tengah ambang kehancuran itu, muncul sang Legenda Cahaya. Ahzan, sang pewaris kekuatan murni dari para leluhur, ditakdirkan menjadi benteng terakhir yang melindungi dunia dari kepunahan. Inilah awal mula dari sebuah hikayat tentang pengorbanan, persaudaraan, dan cahaya yang tak pernah padam.

Solariis

Kerajaan Solariis berdiri megah dengan arsitektur medieval yang menantang langit. Namun, alih-alih batu granit yang dingin dan suram, dinding-dinding kastilnya terbuat dari kristal padat yang ditenun dengan benang-benang emas murni. Sejauh mata memandang, cakrawala negeri ini adalah hamparan cahaya yang tak bertepi, di mana flying buttresses dan jendela rose window yang besar menangkap setiap tetes energi surya untuk diubah menjadi denyut nadi kehidupan.

Keindahan ini adalah warisan dari Perang Fajar Purba, sebuah masa kelam ribuan tahun lalu ketika entitas Void mencoba menelan seluruh dimensi. Para leluhur dari Dinasti Aethel-Solis membangun Solariis sebagai benteng abadi di atas puing kemenangan mereka. Di pusat kota, berdiri Menara Inti (Core Tower) yang menjulang menembus awan, bertindak sebagai pusat saraf energi yang mengalirkan "Liquid Light" melalui parit-parit kristal di sepanjang jalan. Bagi penduduknya, cahaya adalah napas, dan bayangan hanyalah mitos kuno yang terkubur jauh di bawah tanah.

Gambar ilustrasi negeri cahaya (dibuat pakai AI)

Warisan Kekuatan Cahaya

"Tidak ada satupun bisa memilih siapa dirinya di dunia ini."

Ahzan lahir dengan tanda yang tidak bisa dibantah. Sejak kecil, garis-garis luar (outline) cahaya samar sering muncul di kulitnya. Hal itu menjadi bukti bahwa darah nenek moyang penduduk Solariis mengalir murni dalam nadinya. Garis keturunannya bukanlah garis biasa karena silsilah itu menyambung langsung pada para pendiri negeri ini. Namun, kekuatan yang bersemayam dalam diri Ahzan bukanlah sekadar cahaya untuk menerangi jalan, melainkan cahaya yang tajam. Sebuah insting alami untuk menyerang dan membela diri.

"Kamu punya kemampuan dan potensi yang tidak dimiliki orang lain, Ahzan," ucap Alif, kakaknya.

"Seriusan?, aku gak percaya kalo aku punya kemampuan ini" kata Ahzan

Alif sudah lebih dulu memiliki kekuatannya sendiri yaitu Petir. Setiap kali ia bergerak, udara di sekitarnya berderak oleh listrik yang tidak stabil. Dialah yang membimbing Ahzan dan membawanya menuju Kuil Cahaya yang agung. Alif bersikeras bahwa kekuatan mentah dalam diri adiknya harus segera dijemput sepenuhnya agar Ahzan tidak hancur oleh energinya sendiri atau potensi kekuatan dalan diri Ahzan akan hilang sewaktu-waktu.

Sesampainya di kuil cahaya, Alif berdiri di samping Ahzan. Dengan otoritasnya, Alif mengaktifkan mekanisme kuno di pusat kuil. Cahaya murni yang semula tenang tiba-tiba meledak dan merasuk ke dalam setiap pori-pori tubuh Ahzan. Rasanya sangat panas, seolah matahari sedang dipaksa masuk ke dalam dadanya.

Di saat itulah, sebuah keajaiban teknologi Solarpunk tercipta. Sebuah Light-Frame Armor, armoar atau armornya canggih berwarna oren dan kuning, terpasang secara otomatis dan menyesuaikan dengan struktur tubuh Ahzan. Armor ini bukan sekadar pelindung, melainkan perpanjangan dari jiwa Ahzan untuk menghadapi kegelapan apa pun yang berani menyentuh Solariis.

Alif menatap adiknya. Di sela-sela percikan petirnya, ia memberikan senyum tipis. Namun, ada sesuatu yang dingin di matanya saat ia melihat armor emas Ahzan bersinar lebih terang dari kilatan petirnya sendiri.

"Sekarang kau sudah siap, Adikku," kata Alif pelan. 

"Mari kita lihat, apakah cahayamu bisa mengejar kecepatan petirku. Dan aku gak nyangka kalo adikku ini akan menjadi pewaris legenda cahaya" kata Alif

Sejak hari itu, hari-hari Ahzan diisi dengan latihan keras. Di bawah bimbingan Alif, ia belajar mengendalikan setiap denyut cahaya di tanganku. Ahzan harus siap karena ia tahu di luar batas cakrawala Solariis, bayangan sedang menanti waktu yang tepat untuk menyerang.


Bayangan di Perbatasan

Waktu berlalu dengan cepat di bawah langit Solariis yang abadi. Ahzan dan Alif kini menjadi garda terdepan dalam menjaga perbatasan dimensi. Namun, kedamaian negeri cahaya mulai terusik. Dari balik kabut hitam di pinggiran dunia, monster-monster yang tercipta dari manifestasi kegelapan murni mulai merayap masuk.

Dalam sebuah pertempuran hebat di Lembah Kristal, Ahzan melesat bagaikan meteor emas. Ia menghunus pedang cahaya yang berpendar dahsyat, membelah barisan monster bayangan hanya dengan sekali tebas. Ketika musuh mengepung dari jarak dekat, Ahzan melepaskan rentetan pukulan cahaya melee dari tangannya yang menghancurkan raga kegelapan dalam sekejap. Tak berhenti di situ, ia menciptakan puluhan bola cahaya yang meluncur bak misil dan menembakkan laser cahaya dari telapak tangannya untuk menembus pertahanan musuh yang mencoba melarikan diri.

Puncaknya, Ahzan mengaktifkan senjata paling ikonik miliknya: Meriam Cahaya. Dengan satu tembakan energi cahaya dari meriam tersebut, ledakan cahaya menyapu bersih kabut hitam di seluruh lembah, menyisakan keheningan yang agung di bawah perlindungan sang Legenda Cahaya.

Rakyat yang menyaksikan dari kejauhan bersorak. "Lihat sang Legenda Cahaya! Dia benar-benar cahaya harapan kita!"

Di sudut lain medan tempur, Alif bertarung dengan beringas. Petir biru miliknya menyambar-nyambar, menghanguskan musuh dalam sekejap mata. Namun, tidak ada sorakan untuknya. Bagi rakyat Solariis, petir Alif dianggap terlalu liar, berisik, dan menakutkan, berbeda dengan cahaya Ahzan yang terasa hangat dan menenangkan.

"Bagus sekali, Ahzan!" puji salah satu tetua saat pertempuran usai. Ia bahkan tidak melirik ke arah Alif yang berdiri dengan napas tersengal dan tubuh yang penuh luka goresan bayangan.

"Ini dia pahlawan kita dari Solariis" teriak salah satu warga setempat

Alif hanya diam. Ia menatap telapak tangannya yang masih bergetar karena sisa energi listrik. Di matanya, ia melihat Ahzan yang sedang dikerumuni rakyat terasa seperti tembok besar yang menghalangi jalannya. Rasa iri yang semula hanya sekecil debu, kini mulai tumbuh menjadi duri yang tajam di hatinya.

"Kenapa harus adikku, akulah yang paling hebat" kata Alif dengan rasa iri hati terhadap adiknya

Suatu malam, saat patroli sunyi di wilayah terlarang, Alif menemukan sebuah celah dimensi yang mengeluarkan bisikan aneh. Alih-alih menutupnya dengan petir, Alif justru mendekat. Di sana, ia menemukan sebuah artefak kuno berupa kain hitam yang seolah-olah bernapas.

Suatu malam, saat patroli di wilayah terlarang, Alif menemukan celah dimensi dan sebuah artefak kuno berupa kain hitam yang seolah-olah bernapas. Ia tidak menolak panggilan itu. Perlahan, kekuatan baru meresap ke dalam nadinya. Meskipun warna armor-nya tidak berubah, aliran energi di dalamnya mulai berderak dengan hawa dingin yang tidak biasa. Kekuatan yang tidak lagi menuntut pujian, melainkan ketakutan.

Tragedi di Gerbang Obsidian

Ketegangan mencapai puncaknya saat terjadi penyerangan besar di Gerbang Obsidian, benteng terakhir sebelum menuju jantung kota Solariis. Ribuan bayangan merangsek masuk, mengancam warga sipil yang terjebak di dalam benteng.

Ahzan fokus pada pertahanan, menggunakan perisai cahaya untuk melindungi para pengungsi. 

"Tahan barisan! Jangan biarkan kegelapan menyentuh mereka!!!!" teriaknya.

Namun, Alif tidak lagi peduli pada keselamatan warga. Ia melesat ke tengah kerumunan musuh dengan aura yang gelap. Petir birunya kini bercampur dengan semburat ungu kehitaman. Dengan satu raungan penuh kebencian, Alif melepaskan badai petir hitam yang meluluhlantakkan pasukan bayangan dalam sekejap. Namun, dampak ledakan itu juga menghancurkan dinding pelindung benteng, menyebabkan reruntuhan menimpa pemukiman warga.

"Alif! Hentikan! Kau membahayakan mereka!" Ahzan berlari mendekat, mencoba menahan tangan kakaknya.

Alif menepis tangan Ahzan dengan kasar. Matanya tidak lagi menatap dengan kasih sayang, melainkan dengan tatapan predator yang haus akan kekuasaan. "Hasil lebih penting dari cara, Ahzan! Kau terlalu lemah untuk menghancurkan mereka sepenuhnya. Dunia ini tidak butuh pahlawan yang ragu-ragu!"

"Ini bukan dirimu, Kak! Kekuatan kain itu telah meracunimu!"

Alif tertawa, suara yang terdengar asing dan dingin. Ia menarik Kerudung Hitam yang ia temukan tempo hari, menyembunyikannya di balik armor-nya. "Tidak, Ahzan. Ini adalah diriku yang sebenarnya. Diriku yang tidak lagi butuh pengakuan dari rakyatmu yang munafik."

Tanpa kata pamit, Alif meledakkan sisa energinya, menciptakan ledakan hitam yang membutakan mata Ahzan sementara. Saat cahaya kembali normal, Alif telah menghilang. Ia menuju ke satu tempat: Menara Inti. Tempat di mana ia bisa memadamkan seluruh cahaya Solariis untuk selamanya.


Menara Inti

Puncaknya terjadi di puncak Menara Inti, jantung energi Solariis. Badai hitam yang tak pernah terlihat sebelumnya menyelimuti langit yang biasanya benderang. Alif berdiri di sana, berdiri di atas kristal utama, siap menghancurkan sumber cahaya negeri ini.

Duel saudara itu tidak terelakkan. Pedang cahaya Ahzan beradu dengan kilatan petir gelap Alif. Menara itu bergetar hebat saat Ahzan melepaskan seluruh persenjataannya, dari bola cahaya hingga laser murni. Namun, Alif kini didukung oleh kekuatan kain hitam yang misterius, membuatnya mampu menangkis serangan yang biasanya tak terhentikan.

Dalam kondisi terdesak itulah, Ahzan memejamkan matanya. Ia tidak membalas dengan kebencian, melainkan dengan ketulusan untuk menyelamatkan saudaranya. Tiba-tiba, detak Core Cahaya di dadanya berdenyut sangat kencang. Cahaya murni menyembur keluar dari sela-sela armor-nya.

Light-Frame Armor yang semula berwarna oren dan kuning mulai bertransformasi. Warna-warna itu meleleh dan berganti menjadi warna kuning emas murni yang berpendar terang, menyilaukan siapapun yang menatapnya. Inilah mode Nur Ahzan yaitu manifestasi tertinggi dari kekuatan cahaya suci.

Ahzan akhirnya terpaksa menggunakan Meriam Cahaya dalam jarak dekat. Ledakan energi suci menghantam dada Alif, membuatnya terpental dan tergeletak tak berdaya. Armor biru milik Alif retak, menunjukkan raga yang sudah sangat kelelahan.

Ahzan melangkah maju dengan air mata yang mengalir di pipinya yang tanpa rambut. Ia menangis karena ia menang, tapi ia kehilangan segalanya. Ia tidak sanggup membunuh kakaknya.

"Maafkan aku, Kak. Aku terpaksa untuk melakukan ini" bisik Ahzan pelan.

Ahzan melangkah maju dengan air mata yang mengalir. Ia menangis karena ia menang, tapi ia kehilangan segalanya. Ia tidak sanggup membunuh kakaknya. Dengan sisa tenaganya, Ahzan memapah tubuh Alif yang lemah, membawanya turun dari puncak Menara Inti menuju keadilan kerajaan Solariis.


Akibat dari Semua Itu

Setelah turun dari menara, Alif langsung ditangkap oleh pasukan kerajaan Solariis. Karena pengkhianatannya yang besar, ia dijebloskan ke dalam penjara bawah tanah yang paling gelap, sunyi, dan sangat sempit. Kekuatannya diambil dan armor kebanggaannya dilepas dan dihancurkan, digantikan dengan pakaian tahanan yang menghapus seluruh identitasnya sebagai pejuang.

Alif kini hanya mengenakan pakaian serba hitam yang menutupi seluruh tubuhnya. Sebuah jubah hitam polos, sarung hitam polos, kaos kaki hitam panjang, dan sarung tangan hitam. Kepalanya ditutupi dengan kupluk hitam agar tidak ada sehelai rambut pun yang terlihat. Yang paling mencolok, ia dipakaikan kerudung hitam instan yang sangat panjang. Kerudung itu menutup rapat bagian leher hingga sebagian wajahnya, menjuntai panjang hingga menyentuh kaki seperti siluet hantu gelap yang terasing.

Di dalam sel yang pengap itu, Alif dirantai dengan kejam. Tangan dan kakinya terbelenggu oleh rantai logam yang menyambung satu sama lain. Belum cukup dengan itu, ada rantai besar dari dinding yang menarik paksa kedua tangannya agar tetap dalam posisi tergantung. Ia dibiarkan membusuk di sana dalam waktu yang tidak ditentukan. Sipir penjara tidak pernah mengeluarkan suara, membiarkan Alif tenggelam dalam kesunyian dan penyesalan yang tak berujung.

Tiba saatnya hari pembuangan abadi. Alif dikeluarkan dari selnya dalam kondisi yang sudah sangat lemah. Ia dibawa ke sebuah tempat di bawah tanah yang sakral. Tubuhnya dibaringkan di atas meja batu dengan posisi kedua tangan bersedekap di dada, layaknya posisi tidur terakhir manusia.

Hukuman terakhir dimulai. Ahzan berdiri di samping kakaknya dengan tangan yang bergetar. Proses pembungkusan dilakukan dengan sangat teliti. Pertama, tubuh Alif dililit dengan lilitan kain hitam yang rapat seperti mumi. Setelah itu, ia dibalut dengan dua lapis kain hitam menyerupai kain kafan yang menutup seluruh tubuhnya kecuali bagian wajah, lalu diikat dengan lima tali pengikat.

Tahap terakhir yang paling mengerikan adalah pemberian satu lapisan kain hitam tebal yang membungkus seluruh tubuhnya tanpa terkecuali, termasuk wajah Alif yang kini hilang di balik kegelapan kain tersebut. Sebanyak tujuh tali pengikat dikunci dengan segel sihir cahaya agar tak ada kegelapan yang bisa bocor keluar.

Alif, yang kini sudah menyerupai gumpalan kain hitam pekat, perlahan dimasukkan ke dalam Peti Jiwa dan peti jiwa itu ditutup rapat. Dengan berat hati, Ahzan memberikan perintah terakhir untuk menurunkan peti itu ke dalam Void Chamber, sebuah ruang hampa di bawah struktur bumi Solariis yang akan menjadi tempat peristirahatan abadi Alif.

Meskipun hatinya hancur, Ahzan tidak menyerah. Ia tidak melepaskan kekuatannya. Ia mengepalkan tangannya, merasakan denyut Core Cahaya yang masih berdetak kuat di dalam dadanya, menyatu dengan detak jantungnya sendiri. Ia tahu bahwa tugasnya belum selesai. Dunia ini masih membutuhkan pelindung, dan ia akan tetap memikul tanggung jawab itu sampai akhir hayatnya.

Ahzan berdiri tegak, menatap gerbang Void Chamber yang tertutup rapat untuk selamanya. Ia menarik nafas dalam-dalam, membiarkan energi cahaya membasuh sisa-sisa kesedihannya. Dengan langkah mantap, ia berjalan keluar dari kedalaman tanah, siap kembali mengembara ke seluruh penjuru Solariis. Sejarah akan mengenalnya bukan hanya sebagai seorang adik, melainkan sebagai sang pelindung sejati.

...

The Legend of Light.

Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya?

Ribuan tahun telah berlalu, kekuatan fisik sang Legenda Cahaya kini telah mencapai ambang batasnya. Di tengah heningnya Forgotten Ruins, tempat di mana realitas mulai retak, sang Legenda berdiri menanti.

Di depannya, muncul seorang pemuda dengan nama dan rupa yang sama persis, namun berasal dari dunia yang jauh berbeda. Mengapa takdir mempertemukan mereka? Apakah ini sebuah akhir, atau justru awal dari kutukan yang baru?

Temukan jawabannya di cerita selanjutnya: "Legenda Wulan". Akan datang 🗿🗿





About the Author

Hai, aku AhZanMC, dan aku adalah seorang content creator yang sangat antusias dalam berbagi segala hal tentang Minecraft

إرسال تعليق

Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.