Join saluran wa AhZanMC Klik Disini!

Legenda Wulan BAB 2 - PERTEMUAN DI TEPI SUNGAI

Nggak terasa udah dua minggu sejak Ahzan diperbolehkan pulang dari rumah sakit.

Namun, kepulangannya tidak membawa rasa yang lega dan plong. Rumahnya terasa terlalu sepi, terlalu kosong. Tidak ada lagi suara derit pintu kamar sebelah yang biasanya menandakan Alif baru pulang latihan. Tidak ada lagi sepatu kets besar milik kakaknya di rak depan. Setiap kali Ahzan bertanya kapan Alif pulang, Ibunya selalu memalingkan wajah, menyibukkan diri mencuci piring atau merapikan meja, lalu menjawab dengan nada yang sama: "Dia masih di rumah kakek, Zan. Fokus saja pada kesembuhanmu."

Ahzan tidak bodoh. Ia tahu ada kepingan puzzle yang hilang, rahasia kelam yang disembunyikan keluarganya rapat-rapat. Ditambah lagi dengan mimpi-mimpi aneh yang terus menghantuinya setiap malam-mimpi tentang reruntuhan kuno, ksatria bercahaya, dan monster bayangan.

Sore itu, angin berhembus cukup kencang membawa udara dingin. Ahzan berjalan entah dari mana dan duduk jongkok di tangga beton pinggir sungai yang membelah kota. Tempat ini terasa sepi, tidak seperti biasa yang dimana tempat ini banyak digunakan oleh anak-anak yang bermain disini.

Ia mengenakan hoodie hitam yang kebesaran, menarik tudungnya rapat-rapat hingga menutupi separuh wajahnya. Tangannya tenggelam di dalam saku jaket. Sesekali ia meraba kepalanya dari luar kain hoodie. Sensasi licin di balik kain itu selalu berhasil membuat dadanya sesak.

Di usianya yang menginjak remaja, kehilangan seluruh rambut dalam semalam adalah sebuah pukulan telak. Dokter menyebutnya sebuah penyakit langka akibat syok traumatis. Namun, denyutan hangat di dadanya, ada sebuah getaran dari Core Cahaya selalu mengingatkannya bahwa kebotakan ini adalah harga dari sebuah kekuatan cahaya ini.

"AHHHH Sial... ,kenapa aku harus jadi botak gini" gumam Ahzan pelan, melempar kerikil kecil ke arah aliran sungai. "Aku malah aneh dimata orang lain."

Splaasssssh!!!!!!

Sebuah batu berukuran cukup besar tiba-tiba melesat dari arah kirinya, memantul di permukaan air sungai hingga tiga kali sebelum tenggelam. Batu loncat.

Ahzan tersentak dan menoleh. Tidak jauh darinya, berdiri seorang remaja laki-laki sebaya dengannya. Kulitnya gelap, badannya berisi. Meskipun mereka baru beberapa minggu menjadi murid kelas tujuh SMP, posturnya terlihat lebih bongsor dari anak seumurannya, walau tidak sampai tahap kekar berlebihan. Remaja itu mengenakan kaos hitam, celana pendek hitam, dan... sebuah kupluk (beanie) rajut berwarna hitam yang ditarik hingga menutupi telinganya.

"Mantap, rekorku hari ini cuma tiga pantulan," ucap remaja bertubuh tegap itu dengan suara lantang, tidak peduli bahwa Ahzan sedang ingin sendirian. Ia berjalan mendekat sambil mengunyah sesuatu. Tangannya memegang sekantong plastik berisi cilok. "Anginnya lagi nggak asik buat main lempar batu."

Ahzan menggeser posisi duduknya, mencoba menjauh, memberi sinyal bahwa ia tidak ingin diganggu. Ia makin menundukkan wajahnya ke dalam tudung hoodie.

Siapa sangka kalo remaja tadi itu malah duduk di sebelah Ahzan, menyodorkan kantong plastiknya. "Mau? Bumbu kacangnya pedes lohhhh, lumayan buat ngangetin badan."

"Nggak, makasih," jawab Ahzan dengan sifat yang dingin, suaranya teredam kain hoodie hitamnya.

Remaja itu mengangkat bahu, lalu memakan ciloknya sendiri, kemudian remaja itu mengulurkan tangan ke Ahzan dengan maksud berkenalan "Hai, aku Fauzi, kamu warga baru di gang situ ya? soalnya aku nggak pernah lihat kamu nongkrong di sini."

"Gue... lagi masa pemulihan. Jarang keluar rumah," balas Ahzan dengan singkat. Ia bersiap untuk berdiri dan pergi. Orang ini terlalu berisik untuk suasana hatinya yang sedang kacau.

Namun, saat Ahzan hendak berdiri, hembusan angin sungai tiba-tiba bertiup kencang dari arah belakang. Angin itu menyambar tudung hoodie Ahzan yang longgar dan menyibakkannya ke belakang.

Kepala Ahzan yang botak licin langsung terekspos oleh cahaya sore.

Ahzan langsung tiba-tiba panik. Ia buru-buru menarik kembali tudung hoodie-nya dengan tangan gemetar, jantungnya berdegup kencang karena rasa malu yang luar biasa. Ia sudah bersiap mendengar tawa mengejek. Ia sudah bersiap mendengar rentetan pertanyaan menyebalkan seperti "Kamu sakit kanker ya?" atau "Tuyul dari mana nih?".

Namun, tawa itu tidak pernah datang.

Ahzan menoleh pelan-pelan. Fauzi sedang menatapnya dengan mulut sedikit terbuka, cilok di tangannya nyaris jatuh. Matanya membulat sempurna.

"Lo..." Fauzi bergumam pelan.

Ahzan menelan ludah, bersiap membela diri. "Ada apa?, karena kepalaku ini kah?, ya aku kena penyakit autoimun. Kalau kamu mau ketawa, ketawa aja"

"GILA! KAMU KENA JUGA?!"

Tiba-tiba, Fauzi setengah berteriak. Sebelum Ahzan bisa memproses apa yang terjadi, Fauzi menarik lepas kupluk rajut hitam dari kepalanya sendiri.

Di bawah kupluk itu, kepala Fauzi ternyata sama persis dengan Ahzan yaitu sama-sama botak plontos, dan mengkilap ditimpa cahaya matahari sore. Tidak ada sehelai rambut pun di kepala anak bertubuh tegap itu.

Ahzan ternganga. "Lohhh kamu botak juga?"

"Bro!!" Fauzi merangkul bahu Ahzan dengan antusias, wajahnya terlihat lega luar biasa. "Aku kira cuma aku aja di kota ini yang kena musibah aneh! Tiga hari yang lalu, saat aku bangun tidur, kepalaku panas banget, terus pas aku mandi, rambutku rontok semua nutupin saluran air!!! Emak ku sampai histeris ngira aku salah pakai sampo tetangga!"

Ahzan berkedip beberapa kali, otaknya berusaha mencerna situasi. Fauzi tidak menertawakannya, ia justru merayakannya. Sebuah pikiran ganjil melintas di benak Ahzan. Tiga hari yang lalu? Itu persis saat aku terbangun dari koma dan mewarisi Core Cahaya... Jangan-jangan, radiasi energinya menyebar? Atau dia juga masuk ke dimensi itu?

"Dokter bilang apa soal kepala lo?" tanya Fauzi antusias, kembali memakai kupluknya karena kepalanya mulai terasa dingin.

"Penyakit langka," jawab Ahzan gugup, masih syok. "Karena stres."

"Nah kan! Dokter gue juga bilang gitu!" Fauzi menepuk lututnya sendiri. "Tapi gue rasa ini konspirasi. Mungkin ada alien yang lagi nyedot protein rambut dari bumi. Apapun itu, gue bersyukur akhirnya ada temen senasib. Capek gue dibilang mirip bola bowling sama anak-anak warnet."

Mendengar ocehan asal-asalan Fauzi, entah mengapa, pertahanan diri Ahzan runtuh. Rasa sesak di dadanya yang sudah menumpuk selama dua minggu tiba-tiba mengendur. Untuk pertama kalinya sejak ia tersadar di rumah sakit, sejak ia menyadari kakaknya menghilang, sebuah tawa kecil lolos dari bibir Ahzan.

Tawa itu kecil dan pelan, namun perlahan berubah menjadi kekehan panjang.

Fauzi ikut tertawa, tawanya menggelegar mengalahkan suara aliran sungai. Dua remaja botak itu tertawa bersama di pinggir sungai, menertawakan takdir aneh yang merenggut mahkota kepala mereka.

"Ngomong-ngomong, nama lengkapmu siapa, Bro?" tanya Fauzi setelah tawanya reda, mengulurkan tangannya yang besar.

Ahzan membalas jabatan tangan itu. Genggaman Fauzi terasa hangat dan kokoh. "Ahmad Ahzan, biasanya dipanggil Ahzan" jawabnya pelan.

Fauzi tersentak pelan, matanya kembali membulat. "Bentar... Ahmad? Nama depanmu Ahmad juga?"

Ahzan mengangguk ragu. "Iya. Emangnya kenapa?"

"Wahahaha! Gila, namaku Ahmad Fauzi! Botak bareng, nama depan sama pula!" Fauzi tertawa lagi sambil menepuk-nepuk pahanya. Tiba-tiba tawanya mereda, ia menyipitkan mata dan menatap wajah Ahzan lebih lekat. "Tunggu dulu... Ahzan... Ahmad Ahzan... kamu anak kelas 7A kan? Yang absen sakit parah berminggu-minggu dari awal masuk sekolah?"

Ahzan terkejut. Matanya sedikit melebar dari balik tudung hoodie-nya. "Kok tahu?"

Fauzi menepuk jidatnya sendiri yang licin. "Lah, gue sekelas sama lo, Bro! Pantesan muka lo agak familiar! Gue duduk di barisan belakang deket jendela. Wajar sih lo nggak ngeh, pas awal-awal masuk lo kan nunduk terus, diam aja di pojokan kayak patung."

Ahzan terpaku. Sebagai seorang introvert, wajar jika ia sama sekali tidak memperhatikan wajah teman-teman sekelasnya di minggu-minggu pertama, apalagi tragedi koma itu telah menghapus sebagian besar fokus dan ingatannya soal sekolah. Ternyata, anak berisik dan ekstrovert di depannya ini adalah teman sekelasnya sendiri.

"Salam kenal secara resmi, Zan." Fauzi menyeringai lebar, merangkul pundak Ahzan dengan akrab. "Karena kita sekelas dan sekarang udah resmi jadi brotherhood of the botak, mulai besok lo berangkat dan nongkrong bareng gue. Kalau ada kakak kelas yang berani ngejek kepala lo, panggil gue. Biar gue patahin lehernya."

Ahzan tersenyum tipis di balik hoodie-nya. Di tengah dunia nyatanya yang sedang runtuh dan penuh kebohongan, sepertinya alam semesta mengirimkan seorang teman yang tepat waktu.

Mungkin, batin Ahzan sambil menyentuh dadanya yang beresonansi pelan, aku tidak harus menanggung beban ini sendirian.

About the Author

Hai, aku AhZanMC, dan aku adalah seorang content creator yang sangat antusias dalam berbagi segala hal tentang Minecraft

Posting Komentar

Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.